Kamis, 06 Agustus 2009

Sesosok Makhluk Berduri

Di luar negeri, di dalam negeri yang namanya penampakan memang selalu ada. Agustus 2008 saya dan keluarga melakukan umroh bersama ke Tanah Suci. Semua berjalan sangat lancar dan menyenangkan. Dari Madinah, kami melanjutkan perjalanan ke Mekkah. Sebelum kembali ke tanah air, kami pun bermalam di Jeddah karena akan pulang melalui bandara di kota itu. Setelah tur melihat-lihat kota dan berbelanja, kami pun kembali ke hotel.

 

Aku yang kelelahan lalu berniat untuk mandi. Saat membuka pintu kamar mandi betapa terkejutnya aku!! Ada sesosok makhluk berwarna hitam, berduri seperti landak, dan tingginya sekitar 1 meter sedang berada di dalam kamar mandi. Aku tersontak kaget, begitu pun makhluk itu. Ia lalu berlari menembuk tembok dan hilang begitu saja.

 

Aku yang syok dengan kejadian tadi lalu membatalkan niat untuk mandi. Tattttttuuuuuuuttttt…


Jakarta, 6 Agustus 2009

Chibi

 

Rabu, 05 Agustus 2009

Gaun Merah

Tahun 2003 aku masuk ke UI sebagai mahasiswa baru alias maba program studi D3 Arab. Setiap tahun maba D3 FIB menggelar pertunjukan drama yang bernama Pertemuan Tahunan (PT). Kuliah kami dimulai pada siang hari sampai jam 6 sore. Maka jadwal latihan drama pun dilakukan saat malam hari setelah sholat Isya di kelas terbuka (klaster). Biasanya sampai jam 9-10 malam, namun terkadang ada beberapa program studi yang latihan hingga jam 12 malam. 

 

Malam itu tak seperti biasanya, latihan kami dimulai setelah magrib dan selesai sekitar jam 7.30 malam. Teman-teman langsung membubarkan diri dan bersama-sama pulang melewati gedung 4. Namun, aq dan temanku, Fenty, memutuskan untuk sholat Isya dulu di mesjid, arahnya berlawanan arah dengan gedung 4.

 

Beberapa kali Fenty menyakinkan tentang keinginanku untuk sholat dulu. Sebab walaupun hanya berjarak beberapa puluh meter, kami harus melewati area klaster yang gelap, tak ada lampu, dan dipenuhi pohon-pohon. 

 

"Chib, yakin lo mo sholat dulu? Gelap boooo..." kata Fenty.

"Yaelah... deket ini, Fen! Ntar kalo di rumah gw takut ketiduran..." jawabku.

"Yakin lo? Ntar pulang lewat hutan berdua doang gak apa-apa ni?" tegas Fenty.

" Iya, gak apa-apa. Lo berani kan? Gw sih berani..." jawabku cuek.

"Ya udah kalo gitu..." kata Fenty sambil jalan bersamaku ke arah mesjid.

 

Teman-teman jurusanku yang sudah separuh jalan menyadari kami berjalan berlawanan arah dengan mereka. Mereka pun menyarankan kami untuk langsung pulang karena sudah gelap dan lebih aman. Namun, aku dan Fenty menolak karena mau sholat dulu. 

 

Perlahan kami berjalan melewati area klaster. Suasana yang tadinya cukup ramai dengan keberadaan teman-teman pun mendadak senyap. Sejujurnya aku agak ragu untuk meneruskan niatku. Namun aku pura-pura cuek begitu pun Fenty. 

 

Perasaanku semakin tidak enak, kaki pun terasa berat untuk melangkah. Ketika kami berjalan lebih jauh, terasa ada perubahan udara. Udara di tempat itu terasa sangat pekat. Rasanya seperti ada banyak orang dan kami saling bertabrakan. 

 

Tanpa sengaja aku memandang ke arah pepohonan. Astaga!!!! Aku melihat seperti ada orang yang bergantungan di sana. Tidak hanya satu, tapi dua... tiga... empat... bahkan lebih!! Hoaaaaaaa!! Mereka ada di setiap pohon dan sedang memandangi kami!!!!

 

Kami lalu membisu dan berjalan dengan tegang. Entah Fenty juga melihat apa yang aku lihat, namun kami sama-sama merasa ketakutan. Tanpa dikomando kami pun berteriak sambil berlari keluar dari area klaster menuju arah gedung 6. 

 

Saat berlari, aku melihat sesuatu di atas atap gedung 6. Tampak seseorang yang sedang berjalan di atas atap dengan ukuran tubuh yang sangat besar! Gaunnya menutupi seluruh atap gedung dan melambai-lambai seperti tertiup angin!! Kutatap wajahnya... gadis itu cantiiiiiiiik sekali!! Gaunnya berwarna merah mengkilap seperti sutra. Rambutnya hitam panjang, agak berponi. Wajahnya putih dan terlihat oriental. 

 

Kami yang berlari sambil menjerit-jerit itu ternyata didengar oleh teman-teman jurusan. Untung mereka belum terlalu jauh, jadi kami pun pulang bersama malam itu. Mereka hanya tertawa dan geleng-geleng kepala dengan apa yang telah kami alami.

 

Beberapa lama kemudian aku mendengar kisah tentang penampakan gadis bergaun merah di sekitar UI yang terkenal dengan nama gaun merah. Menurut penuturan teman saya, dulu ada seorang gadis yang diperkosa di sekitar UI yang saat itu masih sepi. Gadis yang kabarnya keturunan Tionghoa itu lalu dibunuh dan mayatnya dibuang di masih di sekitar UI juga. Ia paling sering menampakkan diri kepada orang-orang yang lewat di sekitar menara air. Makanya hati-hati kalau berjalan pada malam hari… berdua saja seram apalagi sendiri… Hiiiii…

 

Jakarta, 6 Agustus 2009

Chibi

 

 

 

 

 

Gadis Berambut Panjang

Kejadian ini terjadi pada tahun 2005, saat aku dan temanku, Ami berlibur ke rumah almarhum kakekku di Kediri. Kami tidur di kamar depan yang ternyata adalah kamar almarhum kakekku. Rumahnya luas dengan gaya arsitektur Belanda. Kamar itu luas dengan sebuah tempat tidur jati yang cukup untuk 2 orang. Ada sebuah meja rias, lemari jati, dan sebuah kursi goyang. 

Malam pun tiba. Aku dan Ami tidur terlelap. Entah mengapa waktu berjalan terasa sangat lama. Beberapa kali aku terbangun, namun waktu masih menunjukkan Pk.23.30 WIB. Aku pun berbaring saja, memaksa mata terpejam. Tak lama, Ami pun terbangun. Ia pun berbicara padaku, namun anahnya pandangannya mengarah ke arah kursi goyang.

"Chib, lo ngapain duduk di situ?" tanya Ami setengah sadar.
"Mi??" tanyaku.

Ia pun terkejut karena suaraku berasal dari sebelahnya. Saat melihatku Ami lalu bergidik.

"Ya Allah... Chib, trus yang duduk di sana siapa??" bisiknya perlahan sambil memandangku.

Aku pun mengalihkan pandanganku ke arah kursi goyang dan ternyata memang ada seorang gadis yang duduk di sana. Wajahnya putih dan agak sipit. Rambutnya hitam panjang terurai. Ia terlihat sedang mengawasi kami. 

Aku dan Ami lalu menutup wajah kami dengan selimut.

"Pura-pura tidur, Chib!!" bisik Ami ketakutan.

Aku mengangguk perlahan. Kami pun berusaha tidur dan melupakan apa yang kami lihat.

Esok paginya, saat bangun tidur, kami pun berkumpul dengan oma tiri dan pamanku. Tanpa bisa menahan lagi, kami pun menceritakan kejadian semalam. Bukannya ketakutan, mereka malah tertawa. 

"Dari dulu memang sudah ada... Kami juga sering melihatnya. Dia yang "menjaga" rumah ini..." ujar oma tiriku.

"Mungkin dia mau "berkenalan" dengan kalian. Kan baru ke sini kali ini..." sahut pamanku sambil tersenyum.

Aku dan Ami pun mengangguk-angguk. Oh... ternyata begitu ya... Hehehe ^^

Jakarta, 5 Agustus 2009
Chibi




Senin, 03 Agustus 2009

Hantu Anak Kecil di Rumahku

Kisah ini terjadi sekitar 15 tahun yang lalu, saat usiaku baru 8 tahun. Aku ingat saat itu hujan turun dengan deras. Aku hanya di rumah bersama pembantuku. Saat itu aku berada di ruang nonton TV sedangkan pembantuku sedang menyetrika di kamarnya.


Petir dan guntur yang sahut menyahut membuatku ketakutan. Makanya aku pun segera meringkuk di bawah meja makan. Sebenarnya bulu kudukku mulai merinding sehingga membuatku ingin berlari ke kamar pembantu. Namun karena ingin menonton TV aku pun tetap bertahan di sana.


Entah mengapa perasaanku terasa tidak enak. Akhirnya aku pun memutuskan pergi ke kamar pembantuku. Namun, sebelum aku beranjak dari bawah meja makan, di sebelahku sudah muncul seorang anak kecil yang duduk sambil memeluk lututnya. Usianya kira-kira 2 tahun di bawahku. Bajunya tampak lusuh. Ia hanya menatap televisi lekat-lekat. Bulu kudukku langsung berdiri! Aku ingin berlari, tapi kakiku tak bisa bergerak. Tiba-tiba ia menengok ke arahku dan tersenyum... Hiiiiiiii...

Wajahnya tampak pucat, pucat sekali!! Aku ingin berteriak, tapi tak bisa. Tubuhku pun tak bisa bergerak!! Kira-kira satu jam kemudian, setelah hujan agak mereda aku seperti lepas dari kebekuan. Tanpa menunggu lama, aku segera berlari dan berteriak ketakutan!! Toloooooonnnggg~!!!!!!!!

Pembantuku pun ternyata sedang meringkuk dibalik selimut. Ia ketakutan!!!! Ternyata sebelum menghampiriku, anak kecil itu juga muncul di hadapannya. Kami hanya bisa diam membisu. Bulu kuduk masih berdiri. Tak lama orangtuaku pun pulang dari kantor. Legaaa sekali... 

Sampai sekarang, jika mengingat cerita itu aku masih merinding dibuatnya. Dan aku pun selalu waspada saat hujan deras tiba... Mungkin ia akan muncul dihadapanku atau... dihadapanmu... Hiiiiiiiiiii...


Jakarta, 3 Agustus 2009
Chibi