Tahun 2003 aku masuk ke UI sebagai mahasiswa baru alias maba program studi D3 Arab. Setiap tahun maba D3 FIB menggelar pertunjukan drama yang bernama Pertemuan Tahunan (PT). Kuliah kami dimulai pada siang hari sampai jam 6 sore. Maka jadwal latihan drama pun dilakukan saat malam hari setelah sholat Isya di kelas terbuka (klaster). Biasanya sampai jam 9-10 malam, namun terkadang ada beberapa program studi yang latihan hingga jam 12 malam.
Malam itu tak seperti biasanya, latihan kami dimulai setelah magrib dan selesai sekitar jam 7.30 malam. Teman-teman langsung membubarkan diri dan bersama-sama pulang melewati gedung 4. Namun, aq dan temanku, Fenty, memutuskan untuk sholat Isya dulu di mesjid, arahnya berlawanan arah dengan gedung 4.
Beberapa kali Fenty menyakinkan tentang keinginanku untuk sholat dulu. Sebab walaupun hanya berjarak beberapa puluh meter, kami harus melewati area klaster yang gelap, tak ada lampu, dan dipenuhi pohon-pohon.
"Chib, yakin lo mo sholat dulu? Gelap boooo..." kata Fenty.
"Yaelah... deket ini, Fen! Ntar kalo di rumah gw takut ketiduran..." jawabku.
"Yakin lo? Ntar pulang lewat hutan berdua doang gak apa-apa ni?" tegas Fenty.
" Iya, gak apa-apa. Lo berani kan? Gw sih berani..." jawabku cuek.
"Ya udah kalo gitu..." kata Fenty sambil jalan bersamaku ke arah mesjid.
Teman-teman jurusanku yang sudah separuh jalan menyadari kami berjalan berlawanan arah dengan mereka. Mereka pun menyarankan kami untuk langsung pulang karena sudah gelap dan lebih aman. Namun, aku dan Fenty menolak karena mau sholat dulu.
Perlahan kami berjalan melewati area klaster. Suasana yang tadinya cukup ramai dengan keberadaan teman-teman pun mendadak senyap. Sejujurnya aku agak ragu untuk meneruskan niatku. Namun aku pura-pura cuek begitu pun Fenty.
Perasaanku semakin tidak enak, kaki pun terasa berat untuk melangkah. Ketika kami berjalan lebih jauh, terasa ada perubahan udara. Udara di tempat itu terasa sangat pekat. Rasanya seperti ada banyak orang dan kami saling bertabrakan.
Tanpa sengaja aku memandang ke arah pepohonan. Astaga!!!! Aku melihat seperti ada orang yang bergantungan di sana. Tidak hanya satu, tapi dua... tiga... empat... bahkan lebih!! Hoaaaaaaa!! Mereka ada di setiap pohon dan sedang memandangi kami!!!!
Kami lalu membisu dan berjalan dengan tegang. Entah Fenty juga melihat apa yang aku lihat, namun kami sama-sama merasa ketakutan. Tanpa dikomando kami pun berteriak sambil berlari keluar dari area klaster menuju arah gedung 6.
Saat berlari, aku melihat sesuatu di atas atap gedung 6. Tampak seseorang yang sedang berjalan di atas atap dengan ukuran tubuh yang sangat besar! Gaunnya menutupi seluruh atap gedung dan melambai-lambai seperti tertiup angin!! Kutatap wajahnya... gadis itu cantiiiiiiiik sekali!! Gaunnya berwarna merah mengkilap seperti sutra. Rambutnya hitam panjang, agak berponi. Wajahnya putih dan terlihat oriental.
Kami yang berlari sambil menjerit-jerit itu ternyata didengar oleh teman-teman jurusan. Untung mereka belum terlalu jauh, jadi kami pun pulang bersama malam itu. Mereka hanya tertawa dan geleng-geleng kepala dengan apa yang telah kami alami.
Beberapa lama kemudian aku mendengar kisah tentang penampakan gadis bergaun merah di sekitar UI yang terkenal dengan nama gaun merah. Menurut penuturan teman saya, dulu ada seorang gadis yang diperkosa di sekitar UI yang saat itu masih sepi. Gadis yang kabarnya keturunan Tionghoa itu lalu dibunuh dan mayatnya dibuang di masih di sekitar UI juga. Ia paling sering menampakkan diri kepada orang-orang yang lewat di sekitar menara air. Makanya hati-hati kalau berjalan pada malam hari… berdua saja seram apalagi sendiri… Hiiiii…
Jakarta, 6 Agustus 2009
Chibi